30.3 C
Jakarta
Saturday, October 10, 2026
spot_img

Mitos Macan Kopek Bangkit, Desa Biting Jember Gelar Arak-arakan Seni dan Ruwat Tanah

Mitos Macan Kopek Bangkit

JEMBER (8/09/2026) — Di tengah derasnya perubahan zaman yang mengancam memudarnya cerita rakyat di tengah masyarakat, Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, memilih jalan berbeda: menghidupkan kembali mitologi leluhur melalui seni, musik, dan arak-arakan budaya.

Sosok Macan Kopek, yang selama ini hidup dalam tutur lisan masyarakat Biting, akan dibawa keluar dari ruang cerita menuju panggung dan jalanan melalui festival “Ngarak Si Kopek”.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Sanggar Umah Wetan di bawah pimpinan Abdurrosyid alias Cak Sid bersama Tim Pengabdian Masyarakat. Program ini menjadi bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara yang didukung dan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Bukan Sekadar Cerita Rakyat

Macan Kopek bukan sekadar tokoh dalam cerita rakyat bagi masyarakat Desa Biting.

Dalam mitologi setempat, sosok tersebut digambarkan sebagai hewan berwajah keriput menyerupai lansia dengan ciri khas payudara menjuntai ke tanah. Ia dipercaya sebagai penjaga desa yang berada di kawasan pertemuan Gunung Raung dan Pegunungan Argopuro pada era Nyai Gendruk dari Blambangan.

Berita Lainya :  Jaga Jakarta Kondusif, Polsek Koja Gencarkan Patroli KRYD Antisipasi Tawuran dan Kejahatan Jalanan

Selama ini, mitos tersebut dirawat melalui tradisi lisan dan ritual sesaji yang dilakukan para pinisepuh.

Namun kali ini, warisan tersebut mendapatkan bentuk baru.

Melalui riset spiritual dan proses diskusi bersama perupa lokal Jember Utara, Macan Kopek diwujudkan menjadi instalasi arak-arakan berukuran besar. Bahkan, tiga figur disiapkan untuk tampil dalam perayaan tersebut: Macan Si Kopek, Macan Putih, dan Macan Hitam.

Macan Putih menjadi perlambang timur atau Gunung Raung, sedangkan Macan Hitam merepresentasikan barat atau Pegunungan Argopuro.

Yang menarik, instalasi tersebut tidak dibuat sebagai sekadar pajangan. Figur-figur itu dirancang sebagai medium kinetik, digerakkan melalui koreografi penari yang berada di dalamnya.

Tradisi lama pun bertemu dengan seni rupa kontemporer.

Dari Emperan, Glondang Dibawa ke Jalanan

Revolusi tidak hanya terjadi pada bentuk visual.

Jantung musikal arak-arakan akan diisi oleh inovasi Glondang Kopekan, alat musik tradisional berbahan kayu khas Biting.

Glondang memiliki sejarah yang kuat dalam kehidupan masyarakat setempat. Alat musik tersebut disebut berkembang sebagai bentuk perlawanan warga marginal yang tidak mampu membeli gamelan berbahan besi.

Berita Lainya :  Kapolres Metro Jakarta Utara Tinjau dan Evakuasi Korban Banjir di Semper Barat, Cilincing

Kini, instrumen tersebut direkonstruksi agar dapat dimainkan sambil berjalan.

Pakem laras Slendro diubah menjadi laras Pelok dengan nuansa Janger Jawa Timur. Bilah kayu yang sebelumnya berjumlah enam hingga tujuh dalam satu pangkon dipecah menjadi kelompok tiga bilah dan dimainkan menggunakan harness.

Rekayasa tersebut memanfaatkan pengetahuan lokal para tetua. Kayu waru dan mindi digunakan untuk menghasilkan nada rendah yang bergaung, sementara kayu nangka tua digunakan untuk menghasilkan lengkingan nada tinggi.

Dengan demikian, Glondang tidak lagi hanya menjadi artefak musik tradisional yang dimainkan di satu tempat. Ia dirancang untuk bergerak bersama arak-arakan dan menjadi bagian dari energi pertunjukan di jalanan.

“Jebakan Estetis” untuk Generasi Muda

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Fitri Nura Murti, M.Pd., menyebut penghadiran Macan Kopek ke jalanan pada malam sebelum tradisi bersih desa sebagai sebuah “jebakan estetis”.

Pertunjukan visual yang kuat dan musik ritmis diharapkan menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk kembali mengenal cerita leluhur dan memiliki rasa keterikatan terhadap desa asal mereka.

“Ketika cerita leluhur diberi napas dan medium baru yang relevan dengan zaman, ia berhenti menjadi sekadar kenangan,” kata Fitri.

Berita Lainya :  Rapat Pembahasan DPRD SBB Terkait Alih Status 13 Sekolah dan Aset di Elpaputih ke Kabupaten SBB Berlangsung Alot

Menurutnya, tradisi yang dirawat melalui kreativitas dapat menjadi bekal bagi generasi mendatang untuk melangkah ke masa depan tanpa kehilangan identitas budaya.

“Ngarak Si Kopek” Digelar 12 September

Puncak kegiatan Festival Arak-Arakan dan Ruwat Tanah Desa Biting “Ngarak Si Kopek” akan digelar pada:

Sabtu, 12 September 2026, mulai pukul 19.00 WIB hingga selesai, dengan lokasi di Balai Desa Biting–Lapangan Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember.

Sejumlah kelompok seni juga akan mendukung perhelatan tersebut, di antaranya Reog Singo Bhekti Budhoyo Joyo, Komunitas Cemeti Sodho Lanang, dan Gamelan Kyai Samudro.

Kegiatan ini melibatkan Tim Pengabdian Masyarakat, Sanggar Umah Wetan, Pemerintah Desa Biting, serta masyarakat dari RW 001 hingga RW 012, Pemuda Harapan, Titik Fokus dan berbagai elemen masyarakat lainnya.

Bagi Desa Biting, “Ngarak Si Kopek” bukan semata pertunjukan. Ia menjadi upaya menjawab satu persoalan besar kebudayaan: bagaimana membuat cerita leluhur tetap hidup ketika generasi terus berubah.

Dan jawabannya kali ini bukan hanya dengan mengingat—tetapi dengan mengaraknya ke jalanan.

(Redaksi Jagakampung.com)

Related Articles

JAGAKAMPUNG TV

- Advertisement -spot_img

Latest Articles

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Baca Berita Saatkita News