Jagakampung.com, Kota Bekasi – Baru-baru ini salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di Jl. Cendana 14 Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, digeruduk rombongan emak-emak yang merupakan orang tua murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jakasampurna IV.
Rombongan emak-emak itu mendatangi SPPG tersebut untuk menyampaikan keluhan secara langsung, terkait kualitas dan kelayakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak sesuai dengan tujuan pemenuhan gizi. “Kita kemarin belum ketemu kepala SPPG, cuma ketemu karyawan-nya. Jadi, belum dapat jawaban yang memuaskan kenapa menunya seperti itu,” kata salah satu orang tua murid SDN Jakasampurna IV kepada wartawan pada Kamis (26/2/2026).
Ia menyampaikan, menu pada program MBG yang disajikan awalnya terbilang layak untuk dikonsumsi oleh anak-anak. Tetapi, dalam sebulan terakhir menu tersebut dinilai sangat mengecewakan dan hanya terdiri dari tiga item, “paling parah itu menu rebusan, mereka kasih pisang rebus, jagung rebus, ubi rebus sama kacang,” ucapnya.
Nah, orang tua murid SDN Jakasampurna IV ini menambahkan, “pisangnya itu kecil-kecil dan hitam sekali kondisinya. Entah busuk atau apa, kayaknya sudah gak layak makan. Pernah juga telur bebek busuk dan kemarin puding sudah basi,” imbuhnya.
Diketahui, keluhan mengenai persoalan itu sebelumnya telah disampaikan orang tua murid melalui pihak sekolah kepada SPPG terkait, “tapi gak ada perubahan, masih saja seperti itu,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari wawancara tersebut, para orang tua murid mengaku bukan berarti kurang bersyukur terhadap program MBG. “Ini-kan program besarnya Pak Prabowo, program besarnya pemerintah agar anak-anak itu dapat makanan bergizi yang terukur. Mudah-mudahan kedepannya, paling tidak yang layak makan dan bisa mencukupi kebutuhan anak-anak,” pungkasnya.
Ketika dikonfirmasi secara terpisah, pihak SDN Jakasampurna IV enggan memberikan keterangan secara terbuka. Salah satu guru yang juga Koordinator Penyaluran MBG, Julaeha, didampingi Kepala Sekolah, menyatakan bersedia memberikan keterangan tanpa dokumentasi wawancara.
Hal itu lantaran adanya kesepakatan antara pihak sekolah dengan SPPG terkait, dimana keluhan hanya dapat disampaikan kepada pihak SPPG. “Saya hanya kasih keterangan, kita cuma menyalurkan dari pihak SPPG kondimenya seperti itu. Memang saya juga sudah komplain, tapi saya gak mau kalau di rekam. Karena kita terikat, pihak sekolah yang kena imbasnya,” ungkap Julaeha.
Masih di hari yang sama, Camat Bekasi Barat, Sudarsono, juga sempat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG. Sudarsono menjelaskan, kedatangannya ke lokasi tersebut guna memastikan kebenaran keluhan orang tua murid terkait kelayakan menu MBG.
“Salah satu kehadiran saya juga ingin memastikan itu, karena semua juga ada standarnya ya. Prinsipnya, bagaimana penerima manfaat itu mendapatkan makanan yang sesuai dengan pemenuhan gizi,” jelasnya.
Meski demikian, Sudarsono mengaku belum sempat bertemu dengan pengelola SPPG saat sidak berlangsung, “pengelolanya gak ada, gak apa-apa mungkin masih ada kegiatan yang lain,” tandasnya.
Sementara itu, Dessy selaku Kepala SPPG belum memberikan tanggapan resmi atas sejumlah keluhan tersebut. Upaya konfirmasi melalui pesan seluler juga telah dilakukan, namun hingga berita ini dimuat belum ada respons dari yang bersangkutan. (Andrew)





