Jagakampung.com – Barangkali masih banyak yang belum tahu asal muasal kata ‘plonco’, yang dahulu—sekarang kerap digunakan untuk acara memperkenalkan diri mahasiswa baru (maba) ke mahasiswa ‘senior’.
Dikutip lewat akun Twitter @potretlawas, plonco arti asalnya itu semangka muda. Plonco semangka muda ini juga muncul dalam laporan tahunan dinas pertanian Hindia tahun 1907.
Petani semangka disebut memetik plonco pertama yang tumbuh untuk menghindari buah bantat. Kemudian, dari sinilah maknanya bergeser menjadi orang muda/baru, yang dianggap minim pengalaman.
“Sayangnya memang plonco lantas berkait erat dg tradisi kekerasan yang jauh dari nalar sehat manusia,” demikian cuitan akun tersebut, Rabu (16/9/2020).
Makna serupa direkam kamus botani terbitan 1909 ini: buah muda tanaman Citrullus vulgaris, semangka.
Makna baru yang direkam Pigeaud itulah yang malah kekal. Arti asalnya perlahan hilang.
“Plonco, orang muda [yang masih bodoh, pandir] ini bahkan lantas “dipasangkan” dg tradisi lama pengenalan pelajar yang identik dg aneka aturan/perintah tak masuk akal.”
*Potret: perploncoan mahasiswa baru di Yogyakarta awal 50-an.
Tiga dekade kemudian, Th. Pigeaud sudah merekam 2 makna baru kata plonco dalam kamus bahasa Jawa-Belanda tulisannya. Yakni groen, hijau, maksudnya masih belia. Dan kale schelm, umpatan yang kalau diartikan secara harafiah kurang lebih bangsat botak. Keduanya bahasa percakapan.
“Mencomot kata dan membubuhi makna baru memang kebiasaan manusia. Jadi bukan plonco saja.”
Meski tak memiliki kemampuan menelaahnya secara linguistik, namun ilmu sejarah punya sarana menelusuri kronologi perubahannya. Sejak masih semangka muda, hingga kelak mengalami peyorasi. RI





