Jagakampung.com, Kota Bekasi – Beragam inovasi serta potensi unggulan Kelurahan Jaticempaka, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, menjadi sasaran klarifikasi lapangan Tim Juri Lomba Anugerah Gapura Sri Baduga (AGSB) maupun Lomba Kreatif, Inovatif, dan Kolaborasi (KREASI) PKK tingkat Kota Bekasi, Kamis (24/9/2026).
Dari pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, seni dan budaya, konservasi, hingga pengembangan produk UMKM, seluruhnya ditinjau langsung sebagai bagian dari proses penilaian.
Klarifikasi lapangan tersebut diawali dengan penyambutan Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bekasi, Wiwiek Hargono Tri Adhianto, bersama Wakil Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wuri Handayani, Bagian Tata Pemerintahan Kota Bekasi, serta jajaran tim juri di Kantor Kelurahan Jaticempaka.
Proses penyambutan dilakukan Camat Pondokgede, Zainal Abidin Syah, para lurah se-Kecamatan Pondokgede, Ketua TP PKK Kecamatan Pondokgede dan Kelurahan Jaticempaka, aparatur, unsur TNI-Polri, kader PKK, LPM, BKM, serta tokoh masyarakat.
Usai rangkaian penilaian, Wiwiek mengatakan Jaticempaka memiliki sejumlah potensi yang menonjol, mulai dari pengembangan seni dan budaya hingga ketahanan pangan.
“Alhamdulillah hari ini saya menyelesaikan penilaian KREASI PKK di kecamatan yang ke-11. Luar biasa potensi wilayahnya, terus juga pengembangan seni budayanya, ketahanan pangannya. Tinggal nanti kita lihat apakah ini masuk dalam kategori yang terbaik dari yang terbaik,” katanya kepada wartawan selepas kegiatan berlangsung.
Menurut Wiwiek, masih terdapat satu kecamatan yang harus menjalani penilaian. Namun, potensi yang ditunjukkan Jaticempaka menjadi indikasi bahwa Kecamatan Pondokgede juga bisa berprestasi.
Ia menjelaskan, tahap penilaian diawali dengan pemaparan dari Ketua TP PKK Kelurahan Jaticempaka untuk lomba KREASI dan Lurah Jaticempaka untuk AGSB. Pemaparan tersebut mencakup potensi wilayah serta gerakan PKK, dan kini tahapan penilaian dilanjutkan dengan proses klarifikasi lapangan maupun pemeriksaan administrasi.

Pada aspek gerakan PKK, penilaian mencakup lima kelompok kerja (Pokja). Fokus penilaian meliputi edukasi pola asuh anak di era digital, Gelari Pelangi dan peningkatan keterampilan keluarga, rumah sehat dan KWT, administrasi Posyandu, strata kader, serta pemahaman enam SPM Posyandu berbasis siklus hidup.
“Nah, kita lihat sejauh mana pemahaman kader dan pelayanan yang sudah diberikan ke masyarakat. Poin-poin ini yang menjadi nilai utama, termasuk dari kekompakan, keguyuban, kemudian gerakan bersama antara aparatur dan masyarakatnya terjalin dengan baik,” jelasnya.
Wiwiek juga menekankan agar inovasi yang ditampilkan dalam perlombaan bukan sekadar persiapan sesaat ketika menghadapi proses penilaian dari tim juri. Setiap gerakan, sudah seharusnya berangkat dari kebutuhan masyarakat dan tetap berjalan setelah perlombaan berakhir.
“Saya ingin bagaimana gerakan ini murni dari permasalahan yang dialami warga masyarakat, kemudian mereka sama-sama mempunyai ide, lalu mengatasi, dan akhirnya menjadi sesuatu yang bisa ditampilkan di dalam lomba. Bukan hanya gerakan karena tampil dalam lombanya, tetapi gerakan yang memang nyata ada di masyarakat,” tegasnya.
Dalam kunjungan ke lokasi penilaian, Wiwiek juga mengapresiasi inovasi PKK Kelurahan Jaticempaka dalam memasarkan produk UMKM melalui majalah elektronik atau magazine yang dapat diakses menggunakan kode QR di pintu masuk “Warung Ketawa” (Kreatif, Ekonomis, Terampil, dan Berdaya).
Inovasi tersebut menarik perhatian Wiwiek karena sejalan dengan rencana Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bekasi mengembangkan media promosi produk kerajinan dan UMKM.
“Itu saja sudah mau kita inisiasi di Dekranasda Kota Bekasi, tapi ternyata Jaticempaka sudah mulai melakukan itu. Artinya kita juga belajar dari wilayah, apa yang baik bisa kita terapkan di tingkat kota,” tuturnya.
Wiwiek melihat setiap wilayah memiliki keunggulan masing-masing, sehingga hasil penilaian belum dapat dipastikan hingga seluruh rangkaian proses selesai. Ia turut mengapresiasi upaya Kecamatan Pondokgede membangun identitas wilayah melalui konsep “kota santri”.
“Semua memiliki potensi menang karena masing-masing wilayah punya keunikan. Apalagi sudah membranding bahwa ke depan Pondokgede adalah kota santri. Saya mendorong bagaimana untuk membranding itu, ketika orang bicara Pondokgede yang terbayang adalah santri-santrinya,” ucap Wiwiek.

Selain penilaian, Wiwiek menyampaikan ajang tersebut diarahkan agar memberikan dampak terhadap kebutuhan pembangunan di wilayah. Penghargaan KREASI PKK disiapkan melalui hibah Pemerintah Kota Bekasi, sedangkan AGSB ditangani Bagian Tata Pemerintahan.
Namun, manfaat kegiatan tidak berhenti pada pemberian penghargaan. Kebutuhan pembangunan yang ditemukan selama penilaian juga dapat disampaikan kepada perangkat daerah terkait untuk ditindaklanjuti.
“Jadi tidak hanya hadiah berupa nilai anggaran yang kita berikan, tetapi kita juga akan melihat kebutuhan di wilayah. Dari yang saya cek, nanti akan ada bantuan mungkin berupa saluran dan lain-lain,” pungkas Wiwiek.
Camat Pondokgede, Zainal Abidin Syah, menilai pelaksanaan lomba sebagai momentum untuk memotivasi aparatur dan kader agar terus meningkatkan kinerja serta menjalankan inovasi secara berkelanjutan.
Kolaborasi aparatur, kader, masyarakat, dan para pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam mewujudkan berbagai program di Jaticempaka. Salah satu inovasi yang menjadi perhatiannya adalah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).
“Itu salah satu ikon andalan di Kelurahan Jaticempaka dan terus dimonitoring pembinaannya untuk memproduksi kompos maupun anorganik, melakukan pemilahan sampah, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat,” paparnya.
Konsistensi dipandang perlu meskipun kegiatan lomba telah selesai. Zainal memastikan, inovasi yang telah tumbuh di masyarakat harus tetap dijaga agar berkembang menjadi budaya bersama.
“Yang mau dibangun adalah tingkat kesadaran dan budayanya. Contohnya salah satu Bank Sampah teraktif di RW 010, itu kreatif dan menghasilkan produk-produk daur ulang. RW 001 juga berproses menciptakan daur ulang dari tutup botol. Jadi budaya-budaya itu terus digerakkan secara konsisten di Kelurahan Jaticempaka,” terangnya.

Sementara itu, Lurah Jaticempaka, Edi Djunaedi menguraikan sejumlah titik lokasi yang menjadi fokus klarifikasi lapangan, yakni RW 003, RW 006, RW 011, dan RW 004. Masing-masing wilayah menampilkan inovasi sesuai karakter dan potensi lingkungannya.
“Kalau di RW 003 lebih fokus kepada lomba Sri Baduga, berkaitan dengan Kampung Siaga Bencana dan Pos Kamling. Lalu kita ke RW 004, di sana ada wisata lokal dan konservasi terhadap tanaman maupun hewan, jadi kita hadirkan deHakims Aviary,” urainya.
Di RW 011, sejumlah aspek dari kedua perlombaan ditampilkan, mulai dari Rumah Sehat, kebun KWT, ketahanan pangan hingga TPS3R yang menjadi salah satu unggulan dan masih berjalan hingga kini.
“TPS3R itu memang menjadi produk unggulan dari tahun ke tahun. Dimulai sejak tahun 2022 sampai sekarang masih berjalan, dan memberikan dampak yang bagus bagi warga masyarakat,” ungkapnya.
Pengelolaan sampah melalui TPS3R disebut turut berdampak terhadap pengelolaan retribusi sampah di wilayah. Saat ini, sekitar 30 persen pengelolaan dilakukan TPS3R, sedangkan 70 persennya masih diperbantukan oleh Dinas Lingkungan Hidup.
Tim juri pun mengunjungi Griya Seni Dewi Ratih di RW 006 yang menjadi pusat kerajinan, pelatihan, pojok baca, serta pengembangan seni dan budaya masyarakat.
“Ketika Jaticempaka mendapatkan amanah dari Kecamatan Pondokgede mewakili di tingkat kota, tentu kita bersama tim aparatur, LPM, BKM, dan stakeholder yang melekat bahu-membahu mempersiapkan segala sesuatunya secara maksimal untuk bisa mendapatkan yang terbaik di Kota Bekasi,” bebernya.
Selain proses penilaian, Kelurahan Jaticempaka menyiapkan agenda “Semarak Jaticempaka” yang direncanakan berlangsung pada 17 Oktober 2026. Kegiatan ini akan diisi sejumlah perlombaan, antara lain Bank Sampah, bulu tangkis, dan video kreasi.
Edi menyampaikan, agenda itu tidak semata-mata menjadi kegiatan seremonial, melainkan ruang untuk memperkuat kebersamaan warga, lembaga, dan para pemangku kepentingan dalam membangun lingkungan.
“Untuk 17 Oktober nanti kita akan adakan harmonisasi warga Jaticempaka. Sama halnya dengan persiapan lomba Sri Baduga dan lomba KREASI, tentu ini adalah hasil kerja semua pihak untuk memberikan yang terbaik dengan tujuan mendapatkan juara satu,” tandasnya. (Andrew)





