Jagakampung.com, Kota Bekasi – Penanganan banjir di wilayah Kelurahan Jatimurni, Kecamatan Pondok Melati, mulai memasuki tahap persiapan teknis. Pemerintah setempat bersama Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kota Bekasi melakukan peninjauan lapangan dengan menyusuri saluran air sepanjang hampir satu kilometer yang menghubungkan sejumlah wilayah terdampak, Rabu (22/7/2026).
Peninjauan tersebut turut diikuti oleh Sekretaris Kecamatan Pondok Melati, H. Ferry Prihadi Kurniawan, bersama unsur UPTD dan bidang tata air DBMSDA Kota Bekasi, guna memastikan kesiapan teknis sebelum masuk tahap pekerjaan fisik.
Kegiatan itu disebut sebagai tindak lanjut atas kunjungan Wali Kota Bekasi pada 18 April 2026 lalu di kawasan RW 007 Komplek Bina Arlin, Pondok Jatimuni, yang terdampak banjir. Dari kunjungan ini, direncanakan pembangunan polder sebagai solusi jangka menengah sekaligus harapan warga dalam pengendalian genangan air.
Lurah Jatimurni, Mochammad Sunaryadi atau akrab disapa Adi, mengatakan bahwa lokasi yang ditinjau merupakan titik-titik yang terintegrasi dalam rencana pembangunan tersebut.
“Setelah 18 April dikunjungi, tindak lanjut dari Pak Wali bahwa akan dibangun polder. Tanah tersebut hibah dari salah satu warga seluas 700 meter. Yang tadi kita kunjungi adalah lokasi-lokasi yang akan dibangun,” kata Adi kepada wartawan.
Ia menyebutkan, konsep penanganan yang disiapkan tidak parsial, melainkan dalam satu paket pekerjaan yang mencakup kolam olak (polder), pompa air, serta pembenahan saluran drainase di kawasan perbatasan RW 007 dan RW 003.
Namun, hasil peninjauan menunjukkan sejumlah kendala teknis yang harus diselesaikan sebelum pembangunan fisik dimulai. Di antaranya keberadaan jaringan utilitas yang padat, penyempitan saluran, hingga sedimentasi lumpur yang menghambat aliran air.
“Hasil peninjauan ditemukan banyak jaringan utilitas di RT 006/RW 003, kabel-kabel, saluran air menyempit, dan sedimen lumpur,” ucapnya.
Aliran air dari saluran hulu diketahui melintasi wilayah RW 007, RW 003, dan RW 004 sebelum bermuara di RW 005, tepatnya di kawasan Komplek Griya Agung Sentosa. Di titik inilah persoalan mengendap paling lama: air tertahan, ruang alir menyempit, dan setiap hujan deras berujung genangan berulang bagi warga.
“Panjangnya hampir satu kilometer, terintegrasi dari RW 007, RW 003, RW 004, dan RW 005. RW 005 ini penampung terakhir, makanya sering banjir karena kondisinya ‘ngantong’,” jelas Adi.
Sebagai langkah awal, pihak Kelurahan Jatimurni akan melakukan pembersihan saluran air dengan melibatkan tim pematusan sebelum alat berat diturunkan.

“Kita akan minta bantu tim pematusan. Sebelum alat berat turun, kita bersihkan dulu saluran airnya. Setelah itu kita tarik tali airnya untuk membuang air dari wilayah RW 004 maupun RW 003,” ujarnya.
Selain lahan hibah seluas 700 meter yang direncanakan menjadi lokasi utama polder di RW 007, terdapat pula temuan lahan milik pribadi dengan luas hampir 2.000 meter persegi yang berpotensi diusulkan sebagai penguatan sistem pengendalian banjir ke depan.
Meski arah penanganan telah ditetapkan, pembangunan polder belum dimulai karena masih menunggu proses penataan aliran air dan pembersihan saluran.
Dari sisi pembiayaan, usulan awal yang disampaikan warga mencapai Rp850 juta untuk satu paket pekerjaan. Namun angka tersebut masih bersifat permohonan dan akan disesuaikan dengan hasil perhitungan teknis dari dinas terkait.
“Rp850 juta RAB (Rencana Anggaran Biaya)-nya, itu untuk satu paket. Tapi bentuknya baru permohonan dari warga, bukan penghitungan dari dinas. Jadi kalau di-ACC (red—disetujui) bisa lebih, bisa kurang,” ungkapnya.
Tahapan awal penanganan dari hasil peninjauan tersebut ditargetkan akan dimulai dalam waktu dekat, seiring dengan rampungnya identifikasi persoalan di lapangan.
“Dalam waktu dekat, minggu depan lah dieksekusinya. Hari ini, alhamdulillah semua persoalan sudah kita petakan,” terangnya.
Di tengah proses yang masih berjalan, satu hal sudah mulai terang: arah penanganan telah ditemukan, titik masalah telah dipetakan, dan langkah awal segera dimulai—tinggal menunggu apakah rencana ini benar-benar menjawab harapan lama warga untuk lepas dari banjir yang berulang setiap musim hujan.
“Harapan warga sih terbebas dari banjir, berkurangnya debit air, tingginya jembatan, berkurangnya sampah, dan menjadi solusi buat warga sekitar,” tandasnya. (Andrew)





