Jagakampung.com, CIREBON, 1 Maret 2026 – Kondisi Situs Keramat Sultan Syafiudin Matangaji di wilayah Pedaleman, Desa Matangaji, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon dilaporkan mulai mengalami kerusakan akibat minimnya perhatian dan perawatan. Situasi tersebut mendorong keluarga besar Kesultanan Cirebon untuk segera mengambil langkah penyelamatan.
Melalui keputusan resmi yang dikeluarkan oleh Sultan Pangeran Raja Abdul Gani Natadiningrat dari Keraton Kacirebonan, tiga tokoh ditunjuk untuk bergerak cepat melakukan upaya penyelamatan dan revitalisasi situs bersejarah tersebut.
Ketiga tokoh yang menerima amanah tersebut yakni :
- KPH Ian Toni Taufik Tondonagoro
- Raden Entol Rahmat Supardie
- Raden Mas Hafid Permadi.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat Cirebon.
Gerakan Penyelamatan Situs Bersejarah
Program penyelamatan situs ini dipimpin langsung oleh KPH Ian Toni Taufik Tondonagoro dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, serta pegiat budaya. Sejumlah organisasi yang turut bergabung dalam gerakan ini antara lain Yayasan Sultan Sepuh IV Zaenudin Amirsena, Yayasan Pangageng Kanjeng Pangeran, Brigade Nusantara (BRINUS), serta Padepokan Nur Giri Sapta Rengga.
Upaya revitalisasi ini diharapkan dapat mengembalikan fungsi situs sebagai pusat sejarah, spiritual, serta budaya masyarakat setempat.
Situs Alami yang Menjadi Tempat Ziarah
Situs Keramat Sultan Syafiudin Matangaji dikenal memiliki lingkungan yang masih alami dengan suasana pedalaman pedesaan yang sejuk dan pepohonan rindang. Kondisi ini membuat banyak peziarah merasa nyaman saat berkunjung untuk berdoa, melakukan ritual, maupun meditasi di lokasi yang diyakini sebagai bekas pertapaan.
Di dalam kawasan situs terdapat berbagai peninggalan bersejarah yang hingga kini masih dapat ditemukan, di antaranya :
- Dua sumur keramat
- Telaga alami
- Tempat bekas latihan prajurit
- Lokasi pembuatan senjata pusaka
- Tempat pertapaan atau meditasi
- Area Sultan mengajar para santri dan melakukan ritual.
KPH Ian Toni Taufik Tondonagoro menyampaikan bahwa amanah yang diberikan oleh Kesultanan Cirebon merupakan tanggung jawab besar dalam menjaga warisan sejarah agar tidak hilang.
“Kami berharap upaya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak. Situs ini memiliki nilai sejarah dan spiritual yang penting bagi masyarakat,” ujarnya kepada media.
Sementara itu, Endri Hendra Permana selaku Ketua Umum BRINUS Brigade Nusantara menyatakan kesiapan organisasinya untuk mendukung langkah revitalisasi tersebut bersama masyarakat dan tokoh budaya.
Menurutnya, pelestarian situs sejarah tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi juga membuka peluang masa depan bagi masyarakat sekitar, terutama jika kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai destinasi wisata religi.
“Harapan kami, tempat ini bisa kembali hidup, terawat, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta generasi mendatang,” katanya.
Langkah yang dilakukan pada bulan Ramadhan ini diharapkan menjadi awal dari gerakan besar pelestarian situs sejarah di Cirebon agar warisan leluhur tetap terjaga dan dikenal oleh generasi muda. (red)





