Jagakampung.com, Kota Bekasi – Sebanyak sembilan (9) unit rumah di wilayah Kelurahan Kranji, dinyatakan telah rampung dikerjakan melalui program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) tahun 2025. Pernyataan ini menyusul setelah dilakukannya proses monitoring dan peninjauan hasil pembangunan Rutilahu tahun 2025 di beberapa titik lokasi, seperti; RW. 014, RW. 001, dan RW. 002 Kelurahan Kranji.
Kegiatan monitoring dan peninjauan hasil pembangunan Rutilahu dilakukan langsung oleh Lurah Kranji, Entry Greacetiana yang di dampingi Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Pembangunan (Kasi Permasbang) Kelurahan Kranji, Budiman Setyadi dan staf Kelurahan Kranji, serta pengurus Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Kelurahan Kranji.

Lurah Kranji mengatakan, seluruh unit yang ditinjau sudah selesai 100 persen dan diharapkan bisa meningkatkan kualitas hidup warga penerima manfaat. “Hari ini kami melakukan monitoring program Rutilahu di beberapa titik. Alhamdulillah, yang kita kunjungi tadi sudah 100 persen selesai,” kata Entry di ruang kerjanya selepas melakukan monitoring dan meninjau hasil pembangunan Rutilahu tahun 2025, Senin (8/9/2025).
Berdasarkan data yang diterima dari BKM Kelurahan Kranji, jumlah rumah tidak layak huni yang tercatat mencapai sekitar 40 unit.
Meski begitu, Entry menyebutkan angka tersebut bisa saja bertambah seiring dengan verifikasi lapangan dan pengajuan dari masyarakat. “Data yang ada sekarang 40 rumah, tapi itu data lama. Kalau kita gali lagi informasi dari RW, sebenarnya masih banyak rumah yang kondisinya layak untuk diperbaiki,” ucapnya.
Terkait nilai anggaran, Lurah Kranji mengakui adanya tantangan tersendiri akibat kenaikan harga bahan bangunan dan perbedaan tingkat kerusakan di setiap rumah. “Setiap rumah kondisinya kan berbeda; ada yang rusaknya sampai 70 persen, ada juga yang 50 persen. Jadi, BKM harus pintar-pintar membelanjakan barang sesuai dengan RAB (red – Rencana Anggaran Biaya) yang ada,” ungkapnya.
Entry berharap program Rutilahu dapat terus berjalan secara berkesinambungan setiap tahun, dengan jumlah penerima manfaat yang semakin meningkat. “Mudah-mudahan tahun depan bisa bertambah (red – kuotanya). Kalau tahun ini sembilan unit, semoga tahun depan bisa 15 unit atau lebih, sehingga semakin banyak warga yang bisa merasakan manfaatnya,” pungkas Entry mengakhiri.
Sementara salah satu Pimpinan Kolektif (pimkol) BKM Kelurahan Kranji, Heru Nurohman menjelaskan, bahwa fokus perbaikan setiap unit rumah pasti berbeda-beda sesuai dengan tingkat kerusakannya.
Pada rumah dengan tingkat kerusakan berat, terutama di bagian atap, anggaran akan lebih banyak terserap pada struktur bangunan. Sedangkan untuk rumah berukuran kecil, perbaikan bisa dilakukan lebih menyeluruh hingga ke lantai dan kusen.
Heru juga menyoroti adanya keterbatasan pada nilai anggaran Rutilahu, khususnya di pos pembiayaan tukang.
Tahun ini, Heru memaparkan, setiap unit rumah mendapat alokasi anggaran sebesar Rp. 20 juta. Secara lebih rinci; Rp. 500 ribu untuk biaya persiapan, Rp 17,5 juta untuk material, dan Rp 2 juta untuk ongkos pembiayaan tukang.
“Sedangkan kondisi fakta di lapangan, biaya tukang rata-rata bisa mencapai Rp. 5 juta sampai Rp. 7 juta. Artinya, CPM (red – calon penerima manfaat) harus menambah biaya swadaya sendiri,” paparnya.
Ini-kan jadi kendala, lebih lanjut Pimkol BKM Kelurahan Kranji itu menambahkan, “karena banyak warga yang rumahnya memang layak dibantu tapi tidak punya biaya swadaya, akhirnya tidak bisa ikut program,” imbuhnya.
Ia berharap, pemerintah dapat meninjau kembali besaran nilai anggaran per unit rumah dalam program Rutilahu.

Hal tersebut disampaikan, agar program Rutilahu tidak membebani CPM secara langsung dan bisa menyasar kepada warga miskin yang membutuhkan. “Idealnya itu bantuan bisa dinaikkan menjadi Rp. 25 juta sampai Rp. 30 juta per unit, dan tambahan terbesar dialokasikan untuk biaya tukang. Dengan begitu, warga yang tidak punya kemampuan finansial tetap bisa merasakan manfaat dari program ini,” tandasnya.
Sebelum mengakhiri Heru pun sempat menyampaikan, meski tahun ini hanya sembilan unit yang terbangun, usulan yang masuk dari lingkungan RT/RW masih cukup banyak, mencapai 40–50 rumah.
Dengan jumlah 16 RW yang ada di wilayah Kelurahan Kranji, pihaknya berharap kuota Rutilahu ke depan bisa ditambah agar lebih banyak warga yang merasakan. (Andrew)





